Langsung ke konten utama

Bahaya Teologi Kontekstual Asia, Afrika, dan Amerika Latin

XYZ:
Shalom. Bagaimana pandangan Reformed terkait Teologi Rahim Asia dari pendapat C. S. Song? Apakah pandangan tersebut dapat dibenarkan ataukah harus berhati-hati terhadap beberapa poin tertentu?

MYM:
Saya belum meneliti mengenai teologi ini, jadi saya tak bisa memberikan tanggapan terkait pokok-pokok teologinya. Namun saya memberikan prinsip-prinsipnya di sini. Pada umumnya teologi yang lahir di Asia, Afrika, dan Amerika Latin adalah bersifat kontekstual dalam arti bahwa teologi harus sesuai dengan konteks, bukan hanya mengambil begitu saja teologi Barat lalu diajarkan namun tak ada hubungannya dengan konteks Asia, Afrika, atau Amerika Latin. Kelihatannya spirit semacam ini ada benarnya, namun bahayanya sangat nyata. Mengapa? Pertama, ketika kita berkata bahwa teologi Barat hanya cocok untuk orang Barat dan tak cocok untuk orang Timur, maka kita SEDANG MENYANGKAL bahwa Tuhan bekerja dalam sejarah gereja melalui orang-orang percaya untuk merumuskan pokok-pokok iman kepercayaan (dogma dan dogmatika atau teologi). Artinya kita sedang berkata bahwa Tuhan hanya memberikan kita Alkitab, dan bagaimana merumuskan teologi kita, itu bergantung kita saja, atau suka-sukanya kita saja. Tuhan yang diajarkan dalam Alkitab bukan Tuhan yang demikian. Sama seperti Tuhan telah bekerja dalam sejarah menggunakan orang-orang Yahudi untuk menulis Alkitab, maka Tuhan yang sama juga bekerja dalam sejarah melalui orang-orang Barat, untuk merumuskan pokok-pokok kepercayaan iman Kristen misalnya, trinitas, dwinatur Kristus, dll.

Kedua, mengatakan bahwa teologi Barat tidak cocok dengan konteks Asia, Afrika, dan Amerika Latin, itu berarti bahwa doktrin trinitas, dwinatur Kristus, keselamatan hanya karena anugerah Tuhan yang diterima melalui iman, dll. yang lahir di Barat tidak cocok dengan kita, dan kita harus merumuskan sendiri konsep mengenai Allah, dll. sesuai dengan konteks kita. BAYANGKAN BETAPA KACAUNYA model kontekstualisasi semacam ini.

Ketiga, dalam observasi saya, rata-rata semua teologi kontekstual dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin itu mengandung problem teologis, metafisika, epistemologis, dan ethics (moral). Artinya, rata-rata teologi kontekstual semacam itu mengandung kesesatan-kesesatan.

Keempat, harusnya orang Asia, Afrika, dan Amerika Latin ITU TAHU DIRI DAN TAHU MALU, bahwa dalam providensi-Nya Tuhan tidak mempercayakan mereka untuk menulis Alkitab dan untuk merumuskan doktrin-doktrin penting yang berlaku bagi kekristenan sepanjang zaman. Nah, apakah orang Asia, Afrika, dan Amerika Latin tidak diberi kepercayaan apapun oleh Tuhan? TIDAK! Justru orang Asia, Afrika, dan Amerika Latin mendapat kepercayaan yang tidak kalah pentingnya dari orang Yahudi dan orang Barat. Apa itu? Pertama, kepercayaan untuk memelihara Alkitab dan doktrin-doktrin penting dalam kekristenan yang dibuang oleh orang-orang Yahudi, dan juga dibuang oleh orang-orang Barat yang sudah berzinah dengan mengikuti sekularisme dan ateisme. Kedua, kepercayaan untuk pergi memberitakan Injil yang sejati kepada orang-orang Yahudi dan kepada orang-orang Barat yang sudah menolak Tuhan dan mendirikan berhala mereka sendiri. Ini kepercayaan yang luar biasa besarnya. JADI ORANG ASIA, AFRIKA, DAN AMERIKA LATIN JANGAN MINDER dengan orang Yahudi dan orang Barat, lalu membuat sesuatu hal yang malu-maluin: Bikin teologi kontekstual abal-abal.

Teologi kontekstual yang sejati adalah bagaimana kita membawa ajaran Alkitab dan pengakuan-pengakuan iman yang sudah Tuhan berikan melalui orang-orang percaya dalam sejarah gereja, ke dalam konteks kita masing-masing.
(Dari tanya-jawab di group WA GKKR)

 


Dukungan untuk pelayanan GKKR:

-BRI 042901001255569 A/N Gerakan Kebangunan Kristen   Reformed
-Bank Mandiri 1440023568782 A/N Gerakan Kebangunan   Kristen   Reformed
 Konfirmasi: WA Bendahara 082132132361

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Muriwali Yanto Matalu (MYM)

Muriwali Yanto Matalu (MYM) adalah seorang penulis serta pendiri dan ketua Yayasan  GKKR  (Gerakan Kebangunan Kristen Reformed) , juga pendeta di Gereja Gereja Reformasi di Indonesia (GGRI). Lahir di Melolo, Sumba Timur, NTT, pada tanggal 2 Januari 1972. Saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral (Th.D.) di Kairos University, US. Menyelesaikan S1 teologi di STT Salem, Malang, 2006. Menyelesaikan M.A. dalam bidang teologi (Master of Intercultural Reformed Theology – MIRT) di Theologische Universiteit Utrecht, The Netherlands, 2016. Articles in Journals: 1.        "The Significance of the Propositional Truths in Christian Faith." Verbum Christi Vol. 3, No. 1 (2016): 71-89. 2.        "The Significance of the Van Tillian Method in Apologetics with an Example of Argument to Muslims." Verbum Christi Vol. 3, No. 2 (2016): 284-304. 3.        "A Christian Response to Shankara's Doc...

Apa Itu GKKR?

GKKR (Gerakan Kebangunan Kristen Reformed) dimulai oleh  Muriwali Yanto Matalu beberapa bulan sebelum menyelesaikan program sarjana teologi di STT SALEM Malang, tepatnya pada tanggal 6 Maret 2006. Gerakan ini adalah satu gerakan kebangunan teologi sistematika dan apologetika Reformed yang dikombinasikan dengan penginjilan, kebangunan rohani, dan mandat budaya. GKKR adalah yayasan berbadan hukum dan terdaftar di Kemenkumham.  VISI & MISI Kami melihat bahwa kondisi Kekristenan saat ini baik di dalam iman sejati, pengetahuan akan kebenaran firman, maupun kehidupan moralnya, sungguh sangat menurun. Teologi Liberal masih bercokol di dalam gereja-gereja tertentu dan penekanan pada emosi secara ekstrim di dalam Gerakan Kharismatik menghasilkan kekacauan doktrin sehingga melemahkan iman Kristen yang sejati. Bangkitnya Gerakan Zaman Baru ( New Age Movement ) yang bersifat panteis, yakni percaya bahwa segala sesuatu adalah allah, dan filsafat postmodern yang memaksa kemutlakan ke...

Apa Itu Apologetika Kristen?

Pengertian apologetika Apologetika berasal dari kata apologia (απωλογια) dalam bahasa Yunani yang berarti a justification (satu pembenaran) atau a defense (satu pembelaan atau pertahanan). [1] Maka apologia atau apologetika dapat diartikan sebagai satu pembelaan terhadap pandangan atau posisi ataupun tindakan-tindakan kita. [2] Jadi, jika dikaitkan dengan iman, maka aplogetika adalah pembelaan atas apa yang kita imani sebagai orang Kristen, yakni pasal-pasal kepercayaan atau pengakuan iman, dan juga ajaran atau doktrin yang kita pegang. Apakah membela iman Kristen itu perlu? Charles Spurgeon pernah berkata bahwa Alkitab tidak perlu dibela sama seperti seekor singa tidak perlu dibela. Di dalam satu pernyataannya, dia berkata, “Firman Allah dapat menjaga dirinya sendiri, dan akan melakukan hal itu jika kita mengkhotbahkannya, dan berhentilah membelanya. Lihatlah seekor singa. Mereka telah mengurungnya di dalam kandang untuk menjaganya; menutupnya di balik jeruji-jeruji besi untuk m...