Langsung ke konten utama

Cornelius Van Til, Dampak Dosa, dan Kelemahan Teologi

Jo Chandra:
Sudah lama saya ga nanya disini pak, saya mau tanya:
1. Van Til sering menekankan noetic effects of sin, dimana bahwa pikiran kita sudah terkontaminasi oleh dosa. Kalau begitu, dimana menurut bapak pendekatan Van Til sendiri yang bisa ikut terkena efek yang sama? Bagian mana dari cara kita memakai Van Til yang paling rawan bias karena dosa kita sendiri?

2. ⁠Kalau kita akui noetic sin itu bekerja juga dalam cara kita beteologi (termasuk cara Van Til sendiri berteologi sehingga tidak menutup kemungkinan akan adanya kelemahan dalam teologi Van Til), dan termasuk ke sistem yang kita percaya; pendekatan siapa yang menurut bapak bisa bantu nge-balance atau ingetin kita supaya kita gak jatuh ke rasa ‘selalu benar’ dalam berteologi?

MYM:

1. Jika anda membaca Van Til secara lebih komprehensif, anda tahu bahwa Van Til tidak hanya menekankan effect yang luar biasa dari dosa di dalam konteks epistemologi, tetapi juga, dan justru ini keunikan pemikiran Van Til, bahwa kita hanya memiliki pengetahuan yang sejati selama kita, apa yang Van Til sebut sebagai, "To think after God's thought." Hanya ini cara satu-satunya pikiran kita bisa benar. Dan "to think after God's thought" berarti kita harus selalu selaras dengan wahyu Allah (dalam konteks wahyu khusus yaitu Alkitab, dan dalam konteks wahyu umum yaitu kebenaran-kebenaran umum Allah). Dan untuk bisa berpikir sebagaimana Allah berpikir, maka seseorang haruslah diregenerasi. Tanpa regenerasi tak mungkin berpikir seperti Allah berpikir. Di sini antitesis mutlak antara regenerated dan unregenerated people dinyatakan dengan tegas. Dan, jangan lupa, "to think after God's thought" tidak sama dengan bahwa kita dapat berpikir secara univokal dengan pikiran Tuhan. The regenerated men selalu berpikir seperti Tuhan berpikir dalam pengertian analogi.

2. Pendekatan siapa pun tak bisa jadi standar bahkan pendekatan Van Til sendiri. Justru menjadikan satu pendekatan menjadi standar untuk mem-balance teologi kita agar tak jatuh ke dalam pembenaran diri, BERTENTANGAN dengan epistemologi Van Til itu sendiri. Kembali kepada poin satu di atas, standar satu-satunya adalah wahyu Allah. Dan berbicara wahyu Allah, maka bagaimana Tuhan dalam providensi-Nya dalam sejarah memimpin umat-Nya atau gereja-Nya menafsirkan wahyu-Nya dengan benar, menjadi substantial.

Jo Chandra:

Pak Muriwali Yanto Matalu boleh tanya lanjut disini? Takut kelupaan soalnya. Saya setuju bahwa standar satu-satunya adalah wahyu Allah dan bahwa berpikir “after God’s thoughts’ hanya mungkin secara analogis dan bagi orang yang diregenerasi. Justru dari situ saya ingin memperjelas pertanyaan saya: kalau berpikir kita tetap analogis, historis, dan tidak univokal; dan baik Van Til (waktu dia hidup)maupun kita sendiri sekarang tetap manusia yang berstatus simul justus et peccator; di titik mana menurut bapak dalam teologi Van Til sendiri yang paling rentan disalahpahami, dibakukan, atau dipakai secara berlebihan oleh Van Tillian? Bukan saya menolak terhadap Van Til tapi saya sedang mencoba membentuk kewaspadaan internal terhadap fallibility kita (khususnya saya) dalam berteologi.

Dan kalau standar satu-satunya adalah wahyu Allah, dan gereja dalam sejarah menafsirkan wahyu itu secara fallible, bagaimana menurut bapak kita membedakan antara kesetiaan pada wahyu dengan kecenderungan membakukan satu tradisi teologis tertentu, misalnya Van Til, seolah-olah pemikir/tradisi tersebut sudah sepenuhnya mewakili cara Allah berpikir? Di titik mana gereja perlu waspada bahwa kesetiaan pada satu pendekatan justru bisa menutup koreksi dari wahyu itu sendiri? Thank you pak.

MYM:

Ajaran Alkitab dan bagaimana gereja menafsirkan, itulah Christian philosophy of life yang harus dibela dan dipertahankan. Dan Christian philosophy of life yang Van Til maksudkan adalah dogmatika Kristen (bibliologi, teologi proper, antropologi, kristologi, soteriologi, eklesiologi, eskatologi), yang merupakan satu sistem yang utuh yang harus dipertahankan. Silakan baca "Christian Apologetics" Van Til. Dan, yang harus kita ketahui adalah bahwa yang dimaksud dogmatika Kristen (atau teologi sistematika) di sini adalah dogmatika Reformed, dan secara spesifik rujukan Van Til adalah Herman Bavinck dengan tradisi pasal keesaan (three forms of unity) serta juga merujuk pada Westminster Standard. Nah, dogmatika reformed sebagai Christian philosophy of life inilah yang dibela Van Til sebagai satu kesatuan yang utuh di hadapan Roman Catholicism/Thomism, Arminianism, Barthianism, Atheism, dll., kecuali Islam, karena Islam tak pernah jadi perhatian Van Til. Maka, selama anda menerima pengakuan-pengakuan iman ekumenis gereja, dan pengakuan-pengakuan iman Reformed serta dogmatika Reformed secara umum, saya kira pertanyaan anda mengenai membakukan tradisi teologis tertentu (baca: membenarkan tradisi teologi sendiri) di mana mungkin saja antara Van Til dan anda atau saya itu berbeda dan saling membenarkan diri, ITU MENJADI TIDAK RELEVAN. Kecuali anda Reformed-nya gado-gado, maka bisa saja bertentangan dengan saya atau Van Til.

Pertanyaan anda ini hanya relevan di percaturan worldview antara isme-isme yang saya sudah sebut di atas yang bertarung dengan teologi Reformed. Tetapi pertanyaan saya, apakah anda mau mengatakan bahwa kita sebagai orang Reformed tak perlu terlalu kaku dan jangan terlalu mengangap diri benar, di mana kita juga harus mengakui kebenaran Katolik Roma, Arminianisme, Barthianisme, Ateisme, dll.?

Tambahan, perbedaan antara sesama Reformed, misalnya, antara Van Til dan R.C. Sproul bukan pada teologi sistematika, tetapi terletak pada metode apologetika dan epistemologi. Sehingga, di dalam konteks ini, pertanyaan anda menjadi tidak relevan, karena bukan masalah Alkitab dan penafsirannya dan bukan masalah dogmatika.

Akhirnya, dalam derajat tertentu, kita sebagai orang Reformed memang harus meyakini bahwa dogmatika Reformed itulah yang paling komprehensif di dalam memahami dan menafsirkan keseluruhan ajaran Alkitab. Sebuah istilah lain, "Teologi Reformed adalah yang paling setia terhadap Alkitab." Saya tak merasa ini sebagai sesuatu yang berlebihan, atau sebuah kesombongan, toh semua isme yang saya sebut di atas juga membenarkan dirinya bahkan dengan cara yang paling fundamentalis.


Joe Chandra:
Terima kasih sekali pak MYM sudah mau meluangkan waktu untuk membaca dan membalas pertanyaan saya. Balasan ini bukan rebuttal atau memberikan pertanyaan lanjutan, tetapi sebuah tanggapan dari jawaban bapak. Saya sangat menghormati dan menghargai jawaban pak MYM. Saya belajar banyak dari cara bapak memberikan jawaban dan argumentasi.

Sebenarnya pertanyaan ini keluar dari perenungan saya ketika membaca tulisan Van Til sendiri yang mengatakan “[Man] must, to be sure, think God’s thoughts after Him; but this means that he must, in seeking to form his own system, constantly be subject to the authority of God’s system to the extent that this is revealed to him.”1

Correct me if I’m wrong, tapi menurut saya kalimat Van Til ini tidak memberikan jaminan kenyamanan epistemologis, melainkan sebagai teguran rohani bagi seorang teolog yang tahu bahwa ia berpikir secara analogis, historis, dan masih tetap di sanctified (makanya saya tetap pakai simul justus et peccator). Jadi pernyataan ini yang menjadi pengingat untuk saya bahwa kesetiaan dalam berteologi tidak hanya diukur dari ketepatan sistem, bahkan di dalam tradisi Reformed itu sendiri. Saya memegang teologi Reformed dan yakin teologi dan tradisi Reformed itu paling setia pada Alkitab karena ia tahu dirinya bukan Alkitab.

Di titik ini, refleksi saya bukan dimaksudkan untuk merelatifkan dogmatika Reformed atau melemahkan antitesis, tetapi menjaga agar sistem yang benar itu tidak berubah menjadi perisai bagi pembenaran diri sendiri. Karena saya sadar masih ada indwelling sin di dalam justified sinners who are not yet glorified.

Dan mungkin dengan kepercayaan kepada tradisi Reformed itulah refleksi saya lahir. Dan mungkin juga dalam kesetiaan itulah saya memahami mengapa di dalam lecture nya di Princeton, Bavinck dengan percaya diri mengatakan, “After all, Calvinism is not the only truth.”2
source:
1 Van Til, Cornelius. A Christian Theory of Knowledge (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed Publishing, 1969), 16.

MYM:
Ada masalah dalam pertanyaan-pertanyaan dan respons yang anda berikan. Mari saya urai problemnya:
1) Anda bertanya mengenai Van Til dalam kaitannya dengan dampak dosa dan bagaimana kita tidak membangun teologi yang membenarkan diri. Anda mempertanyakan apakah ada sistem yang membikin kita balance. Saya jawab: Van bicara dampak dosa, tetapi juga bicara bagaimana pikiran kita bisa benar, yakni hanya dengan menyelaraskan pikiran kita dengan pikiran Allah secara analogi. Dengan demikian tak ada sistem yang membuat kita balance, kecuali berpikir sebagaimana Tuhan berpikir, dan ini artinya, menyelaraskan pikiran kita dengan wahyu Allah. Di sini, kita harus melihat bagaimana gereja menafsir wahyu Allah dalam sejarah, ini substasial, sehingga kita tidak membenarkan tafsiran sendiri.

2) Di pertanyaan kedua anda mempertanyakan bagaimana kita tidak jatuh ke dalam membakukan tradisi teologis tertentu. Pertanyaan ini sebetulnya meninggalkan ketidakjelasan, karena pertempuran untuk membakukan diri tidak akan terjadi pada orang-orang sesama Reformed, dan justru itu terjadi antara isme isme yang berbeda. Nah, apakah salah dalam konteks ini jika saya berkata bahwa teologi Reformed adalah yang paling setia pada Alkitab? Tak ada yang salah. Ini tidak sama dengan membakukan tradisi sendiri, karena bagi orang Reformed, bagaimana berpikir selaras dengan wahyu Allah itu perjuangan seumur hidup. Dan, kita tidak mulai dari nol, karena kita berdiri di atas penafsiran gereja (komunitas orang percaya) atas wahyu Allah, dan juga di atas penafsiran komunitas Reformed dalam sejarah. Nah, karena kita tidak mulai dari nol, maka seharusnya spirit pembenaran diri tak ada pada kita, karena kita berpikir sebagaimana Tuhan berpikir atas jasa-jasa pendahulu kita. Saya kira hanya nabi palsu yang bikin ajaran baru yang memiliki spirit pembenaran diri seperti yang anda maksudkan.

3) Ada dua hal yang anda harus bedakan di sini. Memang pertanyaan awal anda bersifat epistemologis, mengenai dampak dosa saat kita berteologi. Indikasi dari pertanyaan anda ini adalah dalam konteks berteologi secara pribadi, dan memang itu yang anda maksudkan. Nah, dalam jawaban saya, anda saya ajak untuk melihat bahwa to think after God's thought itu bersifat komunal, artinya bagaimana Alkitab (wahyu Allah) ditafsirkan oleh gereja. Dan dalam konteks Van Til, saya membawa anda melihat dogmatika Kristen sebagai satu sistem yang utuh, yang merupakan hasil tafsiran gereja (entah secara ekumenis maupun secara partikular dalam tradisi Refomed). Jika berteologi kita adalah secara komunal, maka pertanyaan anda yang indikasinya berteologi secara pribadi, dan bagaimana supaya kita tidak jatuh dalam memutlakkan diri menjadi tidak relevan. Namun, di pertanyaan kedua dan kegika, anda menyinggung tradisi, sehingga tanpa sadar anda sebenarnya mencampuradukkan antara berteologi secara pribadi dengan berteologi di dalam tradisi. Dan jawaban saya cukup clear dalam konteks berteologi di dalam tradisi, apakah saya salah jika berkata bahwa teologi Reformed adalah yang paling setia kepada Alkitab? Tak ada yang salah.

4) Berkaitan dengan poin ketiga, sebenarnya yang anda tanyakan adalah berteologi secara pribadi atau berteologi di dalam tradisi? Mereka yang berteologi secara pribadi adalah orang-orang seperti Erastus Sabdono, Joshua Tewuh, dan juga para teolog liberal, serta orang-orang Kharismatik ekstrim. Kita orang Reformed tidak pernah berteologi secara pribadi karena kita selalu berteologi di dalam tradisi, pertama tradisi ekumenis gereja (hasil-hasil konsili ekumenis), dan kedua tradisi Reformed.

5) Kutipan dari Van Til yang anda tulis di atas, berbicara mengenai manusia yang mencari sistem berpikirnya sendiri, yang hanya bisa berhasil jika dia selalu menundukkan diri di bawah otoritas sistem Allah. Di sini, saya percaya bahwa yang ada di kepala Van Til saat menulis kata-kata itu, adalah sebuah sistem dogmatika Reformed yang Van Til anggap paling setia dan paling tunduk kepada otoritas Allah. Mengapa saya berani berkata seperti ini? Karena terbukti, di semua tulisannya, Van Til berdiri membela sistem Reformed ini (sebagai sebuah Christian philosophy of life) di hadapan banyak isme kecuali Islam. Jadi, ketika Van Til menulis kata-kata itu, maka ada dua hal penting: 1) Dia sedang memberikan prinsip epistemologi, yakni kalau anda mau berpikir benar, maka anda harus berpikir sebagaimana Tuhan berpikir (harus selaras dengan wahyu Allah). 2) Ini bukan pekerjaan yang mulai dari nol (seperti mengisi bensin), tetapi dalam providensi Allah dalam sejarah gereja, sudah ada satu sistem berpikir yang sangat komprehensif dan paling setia kepada Alkitab yakni teologi Reformed. That's the whole point of Van Til.

(Dari tanya-jawab di group WA GKKR dan Lectures on Reformed Theology di FB)



Dukungan untuk pelayanan GKKR:
-BRI 042901001255569 A/N Gerakan Kebangunan Kristen   Reformed
-Bank Mandiri 1440023568782 A/N Gerakan Kebangunan   Kristen   Reformed
 Konfirmasi: WA Bendahara 082132132361




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Muriwali Yanto Matalu (MYM)

Muriwali Yanto Matalu (MYM) adalah seorang penulis serta pendiri dan ketua Yayasan  GKKR  (Gerakan Kebangunan Kristen Reformed) , juga pendeta di Gereja Gereja Reformasi di Indonesia (GGRI). Lahir di Melolo, Sumba Timur, NTT, pada tanggal 2 Januari 1972. Saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral (Th.D.) di Kairos University, US. Menyelesaikan S1 teologi di STT Salem, Malang, 2006. Menyelesaikan M.A. dalam bidang teologi (Master of Intercultural Reformed Theology – MIRT) di Theologische Universiteit Utrecht, The Netherlands, 2016. Articles in Journals: 1.        "The Significance of the Propositional Truths in Christian Faith." Verbum Christi Vol. 3, No. 1 (2016): 71-89. 2.        "The Significance of the Van Tillian Method in Apologetics with an Example of Argument to Muslims." Verbum Christi Vol. 3, No. 2 (2016): 284-304. 3.        "A Christian Response to Shankara's Doc...

Apa Itu GKKR?

GKKR (Gerakan Kebangunan Kristen Reformed) dimulai oleh  Muriwali Yanto Matalu beberapa bulan sebelum menyelesaikan program sarjana teologi di STT SALEM Malang, tepatnya pada tanggal 6 Maret 2006. Gerakan ini adalah satu gerakan kebangunan teologi sistematika dan apologetika Reformed yang dikombinasikan dengan penginjilan, kebangunan rohani, dan mandat budaya. GKKR adalah yayasan berbadan hukum dan terdaftar di Kemenkumham.  VISI & MISI Kami melihat bahwa kondisi Kekristenan saat ini baik di dalam iman sejati, pengetahuan akan kebenaran firman, maupun kehidupan moralnya, sungguh sangat menurun. Teologi Liberal masih bercokol di dalam gereja-gereja tertentu dan penekanan pada emosi secara ekstrim di dalam Gerakan Kharismatik menghasilkan kekacauan doktrin sehingga melemahkan iman Kristen yang sejati. Bangkitnya Gerakan Zaman Baru ( New Age Movement ) yang bersifat panteis, yakni percaya bahwa segala sesuatu adalah allah, dan filsafat postmodern yang memaksa kemutlakan ke...

Apa Itu Apologetika Kristen?

Pengertian apologetika Apologetika berasal dari kata apologia (απωλογια) dalam bahasa Yunani yang berarti a justification (satu pembenaran) atau a defense (satu pembelaan atau pertahanan). [1] Maka apologia atau apologetika dapat diartikan sebagai satu pembelaan terhadap pandangan atau posisi ataupun tindakan-tindakan kita. [2] Jadi, jika dikaitkan dengan iman, maka aplogetika adalah pembelaan atas apa yang kita imani sebagai orang Kristen, yakni pasal-pasal kepercayaan atau pengakuan iman, dan juga ajaran atau doktrin yang kita pegang. Apakah membela iman Kristen itu perlu? Charles Spurgeon pernah berkata bahwa Alkitab tidak perlu dibela sama seperti seekor singa tidak perlu dibela. Di dalam satu pernyataannya, dia berkata, “Firman Allah dapat menjaga dirinya sendiri, dan akan melakukan hal itu jika kita mengkhotbahkannya, dan berhentilah membelanya. Lihatlah seekor singa. Mereka telah mengurungnya di dalam kandang untuk menjaganya; menutupnya di balik jeruji-jeruji besi untuk m...