MYM:
1. Jika anda membaca Van Til secara
lebih komprehensif, anda tahu bahwa Van Til tidak hanya menekankan effect yang
luar biasa dari dosa di dalam konteks epistemologi, tetapi juga, dan justru ini
keunikan pemikiran Van Til, bahwa kita hanya memiliki pengetahuan yang sejati
selama kita, apa yang Van Til sebut sebagai, "To think after God's
thought." Hanya ini cara satu-satunya pikiran kita bisa benar. Dan
"to think after God's thought" berarti kita harus selalu selaras
dengan wahyu Allah (dalam konteks wahyu khusus yaitu Alkitab, dan dalam konteks
wahyu umum yaitu kebenaran-kebenaran umum Allah). Dan untuk bisa berpikir
sebagaimana Allah berpikir, maka seseorang haruslah diregenerasi. Tanpa
regenerasi tak mungkin berpikir seperti Allah berpikir. Di sini antitesis
mutlak antara regenerated dan unregenerated people dinyatakan dengan tegas.
Dan, jangan lupa, "to think after God's thought" tidak sama dengan
bahwa kita dapat berpikir secara univokal dengan pikiran Tuhan. The regenerated
men selalu berpikir seperti Tuhan berpikir dalam pengertian analogi.
2. Pendekatan siapa pun tak bisa jadi
standar bahkan pendekatan Van Til sendiri. Justru menjadikan satu pendekatan
menjadi standar untuk mem-balance teologi kita agar tak jatuh ke dalam
pembenaran diri, BERTENTANGAN dengan epistemologi Van Til itu sendiri. Kembali
kepada poin satu di atas, standar satu-satunya adalah wahyu Allah. Dan
berbicara wahyu Allah, maka bagaimana Tuhan dalam providensi-Nya dalam sejarah
memimpin umat-Nya atau gereja-Nya menafsirkan wahyu-Nya dengan benar, menjadi
substantial.
Jo Chandra:
Pak Muriwali Yanto Matalu boleh tanya
lanjut disini? Takut kelupaan soalnya. Saya setuju bahwa standar satu-satunya
adalah wahyu Allah dan bahwa berpikir “after God’s thoughts’ hanya mungkin
secara analogis dan bagi orang yang diregenerasi. Justru dari situ saya ingin
memperjelas pertanyaan saya: kalau berpikir kita tetap analogis, historis, dan
tidak univokal; dan baik Van Til (waktu dia hidup)maupun kita sendiri sekarang
tetap manusia yang berstatus simul justus et peccator; di titik mana menurut
bapak dalam teologi Van Til sendiri yang paling rentan disalahpahami,
dibakukan, atau dipakai secara berlebihan oleh Van Tillian? Bukan saya menolak
terhadap Van Til tapi saya sedang mencoba membentuk kewaspadaan internal
terhadap fallibility kita (khususnya saya) dalam berteologi.
Dan kalau standar satu-satunya adalah
wahyu Allah, dan gereja dalam sejarah menafsirkan wahyu itu secara fallible,
bagaimana menurut bapak kita membedakan antara kesetiaan pada wahyu dengan
kecenderungan membakukan satu tradisi teologis tertentu, misalnya Van Til,
seolah-olah pemikir/tradisi tersebut sudah sepenuhnya mewakili cara Allah
berpikir? Di titik mana gereja perlu waspada bahwa kesetiaan pada satu
pendekatan justru bisa menutup koreksi dari wahyu itu sendiri? Thank you pak.
MYM:
Ajaran Alkitab dan bagaimana gereja menafsirkan,
itulah Christian philosophy of life yang harus dibela dan dipertahankan. Dan
Christian philosophy of life yang Van Til maksudkan adalah dogmatika Kristen
(bibliologi, teologi proper, antropologi, kristologi, soteriologi, eklesiologi,
eskatologi), yang merupakan satu sistem yang utuh yang harus dipertahankan.
Silakan baca "Christian Apologetics" Van Til. Dan, yang harus kita
ketahui adalah bahwa yang dimaksud dogmatika Kristen (atau teologi sistematika)
di sini adalah dogmatika Reformed, dan secara spesifik rujukan Van Til adalah
Herman Bavinck dengan tradisi pasal keesaan (three forms of unity) serta juga
merujuk pada Westminster Standard. Nah, dogmatika reformed sebagai Christian
philosophy of life inilah yang dibela Van Til sebagai satu kesatuan yang utuh
di hadapan Roman Catholicism/Thomism, Arminianism, Barthianism, Atheism, dll.,
kecuali Islam, karena Islam tak pernah jadi perhatian Van Til. Maka, selama
anda menerima pengakuan-pengakuan iman ekumenis gereja, dan pengakuan-pengakuan
iman Reformed serta dogmatika Reformed secara umum, saya kira pertanyaan anda
mengenai membakukan tradisi teologis tertentu (baca: membenarkan tradisi
teologi sendiri) di mana mungkin saja antara Van Til dan anda atau saya itu
berbeda dan saling membenarkan diri, ITU MENJADI TIDAK RELEVAN. Kecuali anda
Reformed-nya gado-gado, maka bisa saja bertentangan dengan saya atau Van Til.
Pertanyaan anda ini hanya relevan di percaturan
worldview antara isme-isme yang saya sudah sebut di atas yang bertarung dengan
teologi Reformed. Tetapi pertanyaan saya, apakah anda mau mengatakan bahwa kita
sebagai orang Reformed tak perlu terlalu kaku dan jangan terlalu mengangap diri
benar, di mana kita juga harus mengakui kebenaran Katolik Roma, Arminianisme,
Barthianisme, Ateisme, dll.?
Tambahan, perbedaan antara sesama Reformed,
misalnya, antara Van Til dan R.C. Sproul bukan pada teologi sistematika, tetapi
terletak pada metode apologetika dan epistemologi. Sehingga, di dalam konteks
ini, pertanyaan anda menjadi tidak relevan, karena bukan masalah Alkitab dan
penafsirannya dan bukan masalah dogmatika.
Akhirnya, dalam derajat tertentu, kita sebagai
orang Reformed memang harus meyakini bahwa dogmatika Reformed itulah yang
paling komprehensif di dalam memahami dan menafsirkan keseluruhan ajaran
Alkitab. Sebuah istilah lain, "Teologi Reformed adalah yang paling setia
terhadap Alkitab." Saya tak merasa ini sebagai sesuatu yang berlebihan,
atau sebuah kesombongan, toh semua isme yang saya sebut di atas juga membenarkan
dirinya bahkan dengan cara yang paling fundamentalis.
(Dari tanya-jawab di group WA GKKR dan Lectures on
Reformed Theology di FB)
-BRI 042901001255569 A/N Gerakan Kebangunan Kristen Reformed
-Bank Mandiri 1440023568782 A/N Gerakan Kebangunan Kristen Reformed
Konfirmasi: WA Bendahara 082132132361
Komentar
Posting Komentar